2 Maret 2015

Ngeng, Ngeng, Ngeeeng!


Satu tahun setelah meraih gelar sarjana pendidikan, pria itu memutuskan untuk menikah dengan kekasihnya semasa kuliah. Dan sekarang, ia memiliki seorang anak laki-laki berusia lima tahun. Mereka hidup di rumah kecil yang terbuat dari bambu kepang yang menyerupai kandang sapi. Hanya ada peralatan memasak di bagian belakang rumah, dua buang kamar tanpa kasur dan sebuah meja kerja di ruang tamu.

Andai saja aku menjadi kaya, fikir pria itu, mungkin aku akan bisa membahagiakan keluarga kecilku.

Profesinya sebagai guru honorer di sebuah sekolah swasta hanya mampu untuk membeli beras. Padahal, anaknya sudah harus menginjak bangku taman kanak-kanak. Belum lagi ia ingin membelikan istrinya cincin pernikahan (cincin pernikahan mereka sudah dijual untuk bertahan hidup dua bulan lalu). Pria itu masih saja mematung di teras rumah dan fikirannya menerawang jauh di langit yang gelap pekat, kemudian terperosok dalam lautan kenangan. Semua teman-temannya semasa dulu, yang sudah hidup mapan, selalu menghindar ketika dimintai tolong. Sanak saudara memandangnya sebelah mata karena sehari-hari ia berkerja dengan mengendarai sepeda onthel. Tetangganya di kampung mencaci karena gelar sarjananya hanya menghasilkan kata melarat. Kadang ia merasa menjadi suami yang bodoh. Seorang suami yang tak mampu membuat keluarganya hidup berkecukupan sehingga tiap hari harus makan dengan nasi garam.

31 Desember 2014

Tamparan



Sebelum kau bertanya, “Kenapa cerita ini berjudul tamparan?” manusia lebih dahulu diperbudak oleh uang.

Gadis itu bernama Lastri. Dia berkerudung, dan juga cantik. Beruntunglah Lastri ini, dia dilahirkan di keluarga yang mampu dan jauh dari kata melarat─golongan pejabat. Orang-orang menyebutnya anak kesayangan karena semenjak bayi dia tak pernah mengenal mencuci baju, setrika, memasak, apalagi macul di sawah. Boro-boro mencocok tanam, menginjakkan kaki di genangan air saja membuat Lastri risih.

Pernah suatu ketika, dia menginjak genangan air ketika berjalan di sepanjang jalan Malioboro bersama seorang pemuda. Dan saat itu juga, dia langsung menjerit, “Ihh.. jorok banget!” Seperti orang yang kebakaran jenggot, Lastri langsung berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan kakinya yang kotor.

“Ihh.. jorok banget!”
                                               
                                                       ***    
                                                                         
Bagaimana mungkin ada orang yang berkata kalau Indonesia adalah bangsa yang kere? Lihat saja tempat parkir kampus itu. Sudah penuh sesak oleh ratusan motor dan Lastri kebingungan setengah mati mencari lahan kosong guna memarkir motornya. Dia terpaksa berkeliling, kesana-kemari, tengok kanan-tengok kiri demi memarkirkan motornya.           

Dan ketika dia mulai turun dari motor, di kejauhan seorang gadis terlihat berteriak memanggili namanya; tanggannya dilambai-lambaikan dan dia berjalan mendekat.

30 Oktober 2014

Persembahan Untuk Hari Sumpah Pemuda

Sebulan yang lalu, pada mata kuliah Struktur Kalimat Bahasa Indonesia, dosen gue yang kepalanya mengalami kebotakan akut memberi tugas kepada mahasiswa untuk membuat tulisan dalam waktu setengah jam. Dan beginilah jadinya:



            BELAJAR DARI BULE


Sebulan yang lalu batin saya dibuat tertohok oleh mahasiswa asing yang berasal dari Korea. Peristiwa itu bermula ketika saya mengikuti mata kuliah Ketrampilan Wicara, dimana setiap mahasiswa diharuskan menguasai seni mengolah kata. Dosen yang baru saja memasuki kelas, dengan pakaian yang serba rapi dan tanpa membawa buku pegangan seperti dosen lain, berdiri di depan deretan bangku yang sudah terisi oleh puluhan mahasiswa. Ia kemudian melontarkan senyum, berkacak pinggang dan mulai membuka perkuliahan. “Selamat pagi, teman-teman. Semua yang ada di kelas ini akan saya beri nilai A.” Kalimat itu membuat semua mahasiswa bersorak dengan riuh, seolah-olah Indonesia baru saja memenangi gelar Piala Dunia. Dosen yang menyasikan peristiwa itu menggeleng, kemudian melanjutkan kalimatnya. “Asalkan, kalian semua berani untuk berbicara. Anda tahu, mencoba adalah tolak ukur keberanian. Ada yang ingin maju ke depan untuk mencoba berbicara? Ayoh, silahkan maju!”

Kelas yang tadinya ramai seperti pasar malam, sekarang mendadak hening menyerupai kuburan. Tanpa perlu dikomando, seluruh mahasiswa menundukkan kepala. Keheningan ini berlangsung sekitar lima belas menit, tanpa ada satu pun makhluk hidup yang mengeluarkan suara. “Mencoba adalah tolak ukur keberanian,” dosen mengulangi kalimatnya. “Tanpa pernah mencoba sesuatu, seseorang tak akan pernah mendapatkan sesuatu. Tidak adakah di antara teman-teman yang mau mencoba berbicara di depan?”

Lagi-lagi kelas menjadi hening dan semua mahasiswa masih terkubur dengan kediamannya.  Dosen saya memancarkan raut muka yang resah, mata beliau sedikit berkaca-kaca. Ia memutarkan kepalanya ke seluruh penjuru kelas dan tatapan mata beliau terhenti pada seorang mahasiswa asing. “Kamu mau maju ke depan untuk berbicara?” tanya dosen. Mahasiswa asing itu mengangguk, kemudian melenggang ke depan kelas.

6 Oktober 2014

CERITA BUAT AHMAD


Ada kalanya dalam hidup, kau akan muak dengan rasa cinta dan bertanya-tanya kepada Tuhan kenapa Dia menganugerahkan cinta kepada manusia. Seperti menggenggam pisau, itulah yang kurasakan saat ini. Semakin erat menggenggam, samakin sering juga aku tertikam. Semakin aku bertahan, rasa sakit yang berdatangan semakin tak tertahankan dan semakin banyak juga darah yang bercucuran. Ya, tumpahan rasa sayang yang berujung pada kebodohan. Cinta yang saling berbalas dengan luka. Pelan-pelan, rasa cinta itu berubah laksana racun yang mengaliri seluruh aliran darahku, lalu menuntunku dalam pelukan kematian.

Aku bertemu gadis itu delapan bulan yang lalu pada sebuah acara penyambutan mahasiswa baru di kampusku. Kau tahu, aku ini salah satu pemuda yang tergolong culun. Pasti kau bertanya-tanya, kenapa aku disebut culun oleh semua temanku. Sebenarnya aku malu menceritakan ini, tapi apa daya, kau pasti sudah penasaran dengan ceritaku; seumur hidup aku belum pernah pacaran, bahkan aku belum pernah memegang tangan wanita (kecuali tangan ibuk-ibuk penjual nasi goreng samping  kampus sewaktu ia menyerahkan uang kembalian). Bapakku berprofesi sebagai Bupati di  kota C., sedangkan ibuku berprofesi sebagai guru agama. Bisa kau tebak, keluargaku adalah panutan bagi warga di daerahku. Golongan ningrat. Dan, bisa ditebak pula, orang tuaku selalu mendidikku dengan keras, sesuai dengan ajaran agama. Menurut mereka pacaran adalah satu satu hal yang  mendekati zinah dan karena itulah mereka melarangku untuk pacaran.

Tapi aku hanyalah pemuda biasa yang normal. Bukan seorang homoseksual. Sejujurnya hormon lelakiku selalu memuncak ketika melihat video porno. Air lirku menetes ketika melihat payudara yang menyembul dari dada kaum hawa. Hatiku berdegup dengan kencang ketika melihat gadis yang cantik. Dan hal yang paling tak bisa kuhindari adalah, aliran darahku yang berdesir dengan lembut ketika melihat wanita berkerudung, seolah-olah kepalaku baru saja diguyur dengan es cendol. Menentramkan hati. Menentramkan jiwa. Menentramkan fikiran. Bagiku, gadis berkerudung merupakan sosok istri idaman, pasangan hidup yang bisa menemani baik dunia maupun akherat. Pasangan yang bisa menjembataniku menuju kedamaian sejati—Tuhan. Dan, seperti itulah hal yang pertama kali kurasakan ketika melihat gadis kecil itu.

20 Juli 2014

Pertanyaan Untuk Tuhan

Aku bukanlah seorang penutur yang baik. Bagaimana tidak, SD saja aku tidak lulus, membaca huruf tak bisa, bahkan memegang laptop saja tanganku sudah gemeteran. Satu-satunya yang bisa dibanggakan dariku hanyalah berhasil membuat istriku hamil. Kau pasti bertanya-tanya, apakah aku membual? Aku benar-benar tak bisa menulis. Perihal aku bisa menceritakan kisahku ini, akan kau ketahui nanti.                          

Aku masih asyik menghisap beberapa batang rokok sambil mongalik-alik papan penggorengan. Sungguh hal yang memuakkan. Tapi apa daya, inilah pekerjaan yang harus kujalani sebagai penjual burjo; menatap papan penggorengan, lalu menunggu warung setiap hari. Andaikan bisa memilih, pasti aku akan memilih sebagai konglomerat dimana setiap hari bisa bercinta dengan istriku sepanjang waktu sampai lemes. Tidak seperti sekarang. Hampir setiap malam hari aku kesepian. Istriku berada jauh di Jawa Barat, sementara aku di Yogyakarta membanting tulang demi menghidupi keluarga. Jadi aku terbiasa meluapkan kesepianku dengan bercerita kepada pelanggan.                                                                
Kepulan asap masih melayang-layang di warung makan sederhana yang kupunya. Sayup-sayup kudengar jeritan orang-orang di sepanjang jalan depan warungku. Penggorengan yang ada didepanku bergetar dengan hebat. Mejaku sampai bergoleng, lalu tergeletak.

“Gempa! Gempa!” teriak orang-orang.