6 Oktober 2014

CERITA BUAT AHMAD


Ada kalanya dalam hidup, kau akan muak dengan rasa cinta dan bertanya-tanya kepada Tuhan kenapa Dia menganugerahkan cinta kepada manusia. Seperti menggenggam pisau, itulah yang kurasakan saat ini. Semakin erat menggenggam, samakin sering juga aku tertikam. Semakin aku bertahan, rasa sakit yang berdatangan semakin tak tertahankan dan semakin banyak juga darah yang bercucuran. Ya, tumpahan rasa sayang yang berujung pada kebodohan. Cinta yang saling berbalas dengan luka. Pelan-pelan, rasa cinta itu berubah laksana racun yang mengaliri seluruh aliran darahku, lalu menuntunku dalam pelukan kematian.

Aku bertemu gadis itu delapan bulan yang lalu pada sebuah acara penyambutan mahasiswa baru di kampusku. Kau tahu, aku ini salah satu pemuda yang tergolong culun. Pasti kau bertanya-tanya, kenapa aku disebut culun oleh semua temanku. Sebenarnya aku malu menceritakan ini, tapi apa daya, kau pasti sudah penasaran dengan ceritaku; seumur hidup aku belum pernah pacaran, bahkan aku belum pernah memegang tangan wanita (kecuali tangan ibuk-ibuk penjual nasi goreng samping  kampus sewaktu ia menyerahkan uang kembalian). Bapakku berprofesi sebagai Bupati di  kota C., sedangkan ibuku berprofesi sebagai guru agama. Bisa kau tebak, keluargaku adalah panutan bagi warga di daerahku. Golongan ningrat. Dan, bisa ditebak pula, orang tuaku selalu mendidikku dengan keras, sesuai dengan ajaran agama. Menurut mereka pacaran adalah satu satu hal yang  mendekati zinah dan karena itulah mereka melarangku untuk pacaran.

Tapi aku hanyalah pemuda biasa yang normal. Bukan seorang homoseksual. Sejujurnya hormon lelakiku selalu memuncak ketika melihat video porno. Air lirku menetes ketika melihat payudara yang menyembul dari dada kaum hawa. Hatiku berdegup dengan kencang ketika melihat gadis yang cantik. Dan hal yang paling tak bisa kuhindari adalah, aliran darahku yang berdesir dengan lembut ketika melihat wanita berkerudung, seolah-olah kepalaku baru saja diguyur dengan es cendol. Menentramkan hati. Menentramkan jiwa. Menentramkan fikiran. Bagiku, gadis berkerudung merupakan sosok istri idaman, pasangan hidup yang bisa menemani baik dunia maupun akherat. Pasangan yang bisa menjembataniku menuju kedamaian sejati—Tuhan. Dan, seperti itulah hal yang pertama kali kurasakan ketika melihat gadis kecil itu.

20 Juli 2014

Pertanyaan Untuk Tuhan

Aku bukanlah seorang penutur yang baik. Bagaimana tidak, SD saja aku tidak lulus, membaca huruf tak bisa, bahkan memegang laptop saja tanganku sudah gemeteran. Satu-satunya yang bisa dibanggakan dariku hanyalah berhasil membuat istriku hamil. Kau pasti bertanya-tanya, apakah aku membual? Aku benar-benar tak bisa menulis. Perihal aku bisa menceritakan kisahku ini, akan kau ketahui nanti.                          

Aku masih asyik menghisap beberapa batang rokok sambil mongalik-alik papan penggorengan. Sungguh hal yang memuakkan. Tapi apa daya, inilah pekerjaan yang harus kujalani sebagai penjual burjo; menatap papan penggorengan, lalu menunggu warung setiap hari. Andaikan bisa memilih, pasti aku akan memilih sebagai konglomerat dimana setiap hari bisa bercinta dengan istriku sepanjang waktu sampai lemes. Tidak seperti sekarang. Hampir setiap malam hari aku kesepian. Istriku berada jauh di Jawa Barat, sementara aku di Yogyakarta membanting tulang demi menghidupi keluarga. Jadi aku terbiasa meluapkan kesepianku dengan bercerita kepada pelanggan.                                                                
Kepulan asap masih melayang-layang di warung makan sederhana yang kupunya. Sayup-sayup kudengar jeritan orang-orang di sepanjang jalan depan warungku. Penggorengan yang ada didepanku bergetar dengan hebat. Mejaku sampai bergoleng, lalu tergeletak.

“Gempa! Gempa!” teriak orang-orang.                                                

8 Mei 2014

Menggambar Bidadari


Pemuda itu masih menghisap rokok, dan tangannya meliuk-liuk di atas tombol keyboard bagaikan seekor burung kecil yang menari di angkasa. Di dalam kamar yang menyerupai perpustakaan abal-abal itu, setiap hari ia melakukan pekerjaan yang sering dianggap tak berguna oleh semua teman kuliahnya—menulis. Di dalam kamar yang menyerupai perpustakaan abal-abal itu, setiap hari ia melakukan pekerjaan yang sering dianggap tak berguna oleh semua teman kuliahnya—membaca. Di dalam kamar yang menyerupai perpustakaan abal-abal itu, ia selalu bersimpu kepada Tuhan, berharap kelak suatu saat impiannya dapat terwujud. Di dalam kamar yang menyerupai perpustakaan abal-abal itu, ia hidup, bersama dengan puluhan buku, sebuah laptop biru, dan ratusan kata cacian yang dilontarkan oleh teman kuliahnya setiap hari—dasar tukang bolos, masa depan suram, tukang tidur, dan sebagainya—tertempel di dinding kamar.

Rokok. Rokok. Rokok. Kenapa harus rokok?  Kenapa tidak mengkonsumi baigon, obat panu,  atau racun tikus saja supaya ia cepat mampus? Toh semuanya mempunyai efek samping yang buruk kalau dihisap? Tak tahu. Ia tak tahu kenapa harus merokok. Mungkin baginya, rokok adalah sahabat sejati.  Kau tahu, rokok dapat mengurangi beban hidupmu, mengurangi rasa penat  akan pilu yang melanda hatimu, mengurangi rasa kekecewaan akan penderitaan kehidupan. Dan yang terpenting, rokok selalu bisa menemanimu baik suka maupun duka. Harus digaris bawahi bahwa sahabat sejati selalu menamanimu baik suka maupun duka.  Mungkin baginya rokok adalah sahabat sejati dan karena itu ia merokok.                                              

Untuk malam ini, ia kebingungan setengah mati ingin menulis apa. Diangkat tangan kanannya, lalu digaruk-garukkan di atas kepala guna mencari ide seperti seekor monyet. Ia tersenyum sebentar, lalu menunduk.  Tiba-tiba ia teringat akan kisah hidupnya yang sedikit aneh. Atau mungkin, terkesan tak masuk akal. Lalu, ia memutuskan kisah itu yang akan ia tulis.

15 Februari 2014

Tuhan, Negeri Bodoh, dan Tumpukan Abu.


Aku paling benci saat-saat seperti ini: dimana aku ingin membuat orang tertawa, dan diriku sendiri berkata bahwa aku lebih cengeng daripada seorang bayi berumur dua bulan. Malam ini aku memang menangis. Menangis secara secara harfiah, maksudnya. Mungkin mataku tetap terang benderang seperti lampu bohlam, tapi hatiku meraung kesakitan. 

Peristiwa ini bermula tadi pagi. Aku tahu, kau pasti bertanya-tanya kapan dan dimana peristiwa yang akan kuceritakan berlangsung. Sejujurnya aku tak bisa menjawab. Kau tau, di negeri yang akan kuceritakan, semua orang bertindak secara arogan. Bahkan kabarnya banyak sekali orang yang menuliskan cerita tentang keadaan negeri itu dimasukkan ke dalam penjara. Aku sendiri tak tahu kenapa mereka dimasukkan ke dalam penjara. Tapi kurasa, negeri itu sangat takut mengakui bahwa negeri mereka memang bodoh. Kau tak ingin aku dipenjara, bukan? Jadi ijinkan aku menyebutnya, Negeri Bodoh. Sekali lagi, ini cerita tentang Negeri Bodoh, sebuah negeri nan jauh di luar angkasa. Kurasa sekarang aku tak perlu takut menulis karena kejadian ini terjadi di Negeri Bodoh.    

Aku bangun dengan mata yang memerah seperti bola ping pong. Samar-samar hidungku mulai mencium bau yang tidak sedap. Aku tahu, kamarku memang selalu beraroma tak sedap. Tapi bau ini benar-benar aneh. Aku tidak pernah mencium bau seaneh ini sebelumnya. 

6 Februari 2014

DIAM BELUM TENTU EMAS


Mahasiswa yang hobinya bolos itu pasti kelak jadi orang yang sukses. Sukses lulus lama, maksudnya. Kadang gue sendiri bingung dengan nasib IPK gue yang memprihatinkan. Makin lama kuliah, IPK gue makin anjlok. IPK itu kayak hujan, bisanya turun terus, kagak bakal bisa naik.

Siang ini, gue baru aja ngisi KRS bareng temen-temen kuliah.  Akhirnya setelah liburan panjang, gue menginjakkan kaki juga di kampus. Sejujurnya gue sama sekali nggak kangen sama kuliah. Apalagi sama dosen Fisika yang kepalanya botak.  Satu-satunya yang gue kangen waktu kuliah hanyalah ngecengin mahasiswi.

Selama mengisi KRS, ada perbedaan paling mendasar antara mahasiswa ber-IPK jeblok sama mahasiswa ber-IPK tinggi. Kebanyakan mahasiswa yang IPK-nya nyaris cumlaud malah tertunduk. Sekali mereka uring-uringan mikir IPK mereka yang turun.

Mahasiswa ber-IPK jeblok? Mereka semua malah ketawa ngakak. Contohnya aja gue sama temen gue. Saat ini kita berdua menyandang gelar paling hina dalam dunia perkuliahan: calon mahasiswa abadi. Meskipun IPK kita berdua paling jongkok di kampus, tapi kita malah senyum-senyum sendiri waktu ngeliat IPK. Boro-boro mikirin IPK cum laude, bisa lulus aja udah keajaiban dunia.  Kadang waktu nulis nama dosen pengampu kita malah ngumpat-ngumpat sendiri sambil tertawa terkekeh-kekeh, “Ketemu pak ini lagi? Jancok! Udah botak, pelit ngasih nilai! hahaha”