Ada kalanya dalam
hidup, kau akan muak dengan rasa cinta dan bertanya-tanya kepada Tuhan kenapa
Dia menganugerahkan cinta kepada manusia. Seperti menggenggam pisau, itulah yang kurasakan saat ini. Semakin erat
menggenggam, samakin sering juga aku tertikam. Semakin aku bertahan, rasa sakit
yang berdatangan semakin tak tertahankan dan semakin banyak juga darah yang bercucuran. Ya, tumpahan rasa
sayang yang berujung pada kebodohan. Cinta yang saling berbalas dengan luka. Pelan-pelan, rasa cinta itu berubah
laksana racun yang mengaliri seluruh aliran darahku, lalu menuntunku dalam pelukan kematian.
Aku bertemu gadis itu delapan bulan yang lalu pada sebuah acara penyambutan mahasiswa baru di kampusku. Kau tahu, aku ini salah satu
pemuda yang tergolong culun. Pasti kau bertanya-tanya, kenapa aku disebut culun
oleh semua temanku. Sebenarnya aku malu menceritakan ini, tapi apa daya, kau
pasti sudah penasaran dengan ceritaku; seumur hidup aku belum pernah pacaran,
bahkan aku belum pernah memegang tangan wanita (kecuali tangan ibuk-ibuk
penjual nasi goreng samping kampus
sewaktu ia menyerahkan uang kembalian). Bapakku berprofesi sebagai Bupati di kota C., sedangkan ibuku berprofesi sebagai
guru agama. Bisa kau tebak, keluargaku adalah panutan bagi warga di daerahku.
Golongan ningrat. Dan, bisa ditebak pula, orang tuaku selalu mendidikku dengan
keras, sesuai dengan ajaran agama. Menurut mereka pacaran adalah satu satu hal
yang mendekati zinah dan karena itulah
mereka melarangku untuk pacaran.
Tapi aku hanyalah pemuda biasa yang normal. Bukan
seorang homoseksual. Sejujurnya hormon lelakiku selalu memuncak ketika melihat
video porno. Air lirku menetes ketika melihat payudara yang menyembul dari dada
kaum hawa. Hatiku berdegup dengan kencang ketika melihat gadis yang cantik. Dan
hal yang paling tak bisa kuhindari adalah, aliran darahku yang berdesir dengan
lembut ketika melihat wanita berkerudung, seolah-olah kepalaku baru saja
diguyur dengan es cendol. Menentramkan hati. Menentramkan jiwa. Menentramkan
fikiran. Bagiku, gadis berkerudung merupakan sosok istri idaman, pasangan hidup
yang bisa menemani baik dunia maupun akherat. Pasangan yang bisa menjembataniku
menuju kedamaian sejati—Tuhan. Dan, seperti itulah hal yang pertama kali
kurasakan ketika melihat gadis kecil itu.